Surabaya, Kamis 18 Februari 2016.
sumber : http://sidomi.com/wp-content/uploads/2015/08/tempe.jpg
Menyambung sebelumnya mengenai makanan yang saya coba rasakan dan tidak menyiksa ketika sedang radang tenggorokan kronis, http://hafidhsusila.blogspot.co.id/2016/02/makanan-yang-nyaman-saat-radang_17.html. dari sini saya mulai penasaran mengapa tempe ini sangat membantu ketika sedang mengalami gangguan pencernaan, baik diare, mag sampai dengan radang kronis .
Mencoba mencari infromasi dari berbagai sumber dan Alhamdulilah inilah jawaban medisnya. dari dr Samuel menuturkan hal ini karena tempe mengandung protein yang bagus
dan senyawa anti inflamasi (anti peradangan). Protein yang terkandung di
dalam tempe sudah siap untuk diserap tubuh karena ia sudah terlebih
dahulu dicerna oleh kapang (jamur) yang ada di tempe.
"Biasanya
protein utuh harus dicerna terlebih dahulu menjadi partikel-partikel
yang lebih kecil agar mudah diserap, tapi pada tempe protein tersebut
sudah dicerna oleh kapang," ungkapnya.
Kapang (jamur) yang
dihasilkan oleh ragi tempe bisa mengubah protein kompleks kacang kedelai
karena adanya perubahan-perubahan kimia pada protein, karbohidrat dan
juga lemak. Serta kulit kedelai yang keras menjadi lebih lembek sehingga
memudahkan perut untuk mencerna.
Selain itu tempe juga diketahui
bisa memperbaiki saluran pencernaan yang rusak serta mengatasi gangguan
lambung yang kebanyakan diderita oleh pasien maag. Hal ini karena tempe
bisa memberikan kenyamanan di lambung.
"Tempe merupakan pangan
fungsional atau makanan yang dikonsumsi sehari-hari, karenanya tidak ada
batasan asupan atau dosis," ujar dokter yang juga berpraktik di
Semanggi Spesialist Clinic.
Salah satu penyebab sakit maag adalah
akibat pola hidup yang tidak sehat seperti meninggalkan sarapan, pola
makan yang tidak teratur atau sering telat serta faktor stres akibat
pekerjaan dan jalanan yang macet.
Faktor lainnya yang bisa menyebabkan penyakit maag adalah adanya bakteri Helicobacter pylori yang dalam jangka waktu panjang bisa merusak sel-sel di dalam jaringan mukus lambung.
"Fungsi tempe untuk menangkap Helicobacter pylori secara teori bisa saja, tapi secara penelitian belum ada. Namun penelitian mengenai tempe ini sudah banyak dilakukan," imbuhnya.
Bagaimana mengonsumsinya?
Ada
sebagian orang yang percaya, khasiat tempe akan muncul jika dimakan
mentah. Boleh-boleh saja memakan tempe mentah tapi jika ingin lebih
steril lebih bagus jika dikukus, direbus atau digoreng dengan sedikit
minyak.
Bahan baku utama tempe adalah kedelai yang mana proteinnya yang tinggi di dalamnya yang memberikan khasiat kepada tubuh.
Menurut
Food and Drugs Administration AS, setiap hari tubuh perlu mengonsumsi
25 gram protein dari kedelai yang setara dengan 125 gram tempe. (health.detik.com, 25/04/2011).
Alhamdulilah hari ini sudah bisa makan jauh lebih baik dan hilang rasa sakit di tenggorokan, yang paling penting saya tidak lapar dan lemas.
Rabu, 17 Februari 2016
Makanan yang Nyaman Saat Radang Tenggorokan Kronis adalah Tempe Kedelai
Makanan yang Nyaman Saat Radang Tenggorokan Kronis adalah
Tempe Kedelai jangan digoreng, namun direbus atau langsung makan (jika kamu yakin higieis)
Empiris, 17 Februari 2016
Hari Jumat, 12 Februari 2016 sore
hari pukul 16.00 WIB tiba-tiba badanku drop, terasa greges greges, panas tapi
kerasa dingin kepala cekot-cekot, pergelangan kaki dan otot sakit. Saya kira
ini demam biasa. Saya minum Parasetamol, 30 menit kemudian sakit mereda dan
panas turun, saya pulang ke tempat asal saya dari Surabaya ke Jawa Tengan. Karena
terburu-buru supaya jika nanti saya sampai Jawa Tengah, saya lupa tidak membawa
Parasetamol lagi untuk jaga-jaga jika ditengah perjalanan sakit itu timbul lagi
(Lama perjalanan Surabaya Jawa Tengah -/+ 7 jam).
Saya pulang naik bus, sampai
terminal pukul 18.30 WIB langsung berangkat busnya, setelah kurang lebih
berjalan 2 jam, ternyata demam dan pusing tadi muncul dengan serangan yang
lebih dahsyat. Bus dengan AC segar, bagi saya rasanya seperti di dalam feerzernya
Es Cream Campina yang suhunya minus 150 celcius. Perjalanan masih 5
Jam lagi untuk sampai Jawa Tengah atau setidaknya 3 jam untuk berhenti di rest
area. Di saat ini saya sudah merencanakan membeli parasetamol lagi ketika berhenti
di rest area. Namun 3 jam itu serasa lebih lama daripada waktu yang diperlukan
sebuah bumi untuk berotasi (23 jam 56 menit 4 detik).
Setelah menunggu sekian lama
akhirnya sampai di rest area, dan Mart disana tidak menjual parasetamol,
kemudian saya minta diambilkan beberapa obat sakit kepala , saya cari yang
komposisi parasetamol 500 mg, saat itu saya pilih oskadon, obat yang belum
pernah saya konsumsi sebelumnya. Langsung saya telan 1 butir balik ke bus bias tidur,
akhirnya sampai juga di Jawa Tengah. Sampai rumah tidur menunggu pagi untuk
menunggu dokter yang buka. Jam 10.00 WIB hari Sabtu 13 Februari 2016, saat itu
suhu tubuh 38,50 celcius, saya memeriksakan ke seorang dokter yang
lumayan terkenal di Kota Boyolali Mr. T. Diagnose kena migrain. Diberi resep
suruh tembus ke apotik. Lumayan mahal obat nya, ada 5 macam diantaranya ada diazepam.
Pulang dari apotik suhu tubuh naik 410 celcius. Karena takut step,
keluarga saya mengkompres saya. Satu jam berlalu panas turun setelah minum obat
dan dikompres. Saya akan pergi menghadiri hajatan Kakak Ipar, saat itu saya bias
menyetir namun kondisi lemas sehingga sampai TKP hanya tidur kemudian
kedinginan badan juga dingin, akhirnya tidak jadi melakukan apapun, langsung
bertolak pulang. Sampai rumah minum obat lagi, kemudian tidur. Pukul 00.00 WIB
14 Februari 2016 keringat mengalir deras sekali, sampai bed, bantal dan saya
harus ganti baju 6 kali dari jam 00.00 WIB sampai 05.00 WIB. Akhirnya saya
memutuskan untuk menghentikan obat, badan lemas, terasa dingin meskipun hanya
hembusan udara lingkungan saat itu.
Pukul 09.00 WIB saya mengantar ke
bandara kakak saya dalam kondisi lemah, pulang dari bandara saya beli minum
fatigon hydro, biar segar namun ada yang aneh di tenggororkan, kok saya minum
air namun rasa silet ya, sakitnya minta ampun. Ada apa dengan tenggorokanku. Ah
mungkin radang.
Sore saya mau balik Surabaya kepala
masih pusing, sedih banyak masalah, tak bias makan. Akirnya saya nekat balik
Surabaya, baru sampai Solo, datang masalah yang tak terduga (masalah tidak
diceritakan, namun ini membuat saya syok dan hampir kehilangan akal), Tuhan
sepertinya tidak mengijinkan ku ke Surabaya dalam kondisi seperti ini, aku
turun dari bus meski sudah membayar dengan tariff sampai ke Surabaya. Ganti bus
jurusan Boyolali lagi. Sampai Rumah, lemas karena belum makan dari pagi. Ibu
saya mencarikan bubur bayi untuk mengisi kekosongan perut. Memakan bubur bayi
aja susahnya minta ampun. Paginya ibu masih memberikan makanan itu, rasanya
tetap sama seperti silet. Penasaran saya lihat tenggorokan, takut bukan
kepalang melihat kondisi tenggorokanku, sampai tak bias aku bercerita cukup
lihat gambar ini saja kenapa semua makanan rasa silet. Maaf terlalu fulgar, jangan tanya rasanya ya itu tadi makanan seenak apapun rasa silet.
Siang saya pengen kacang hijau,
namun baru makan 2 sendok sudah berhenti karena ga kuat perihnya makan silet. Mencoba
lagi makan buah naga yang di jus, baru satu sendok menyerah. Suruh kumur garam
namun tetap ga ada perkembangan, pakai albotyl sampai keminum minum dan habis
satu botol kecil dalam 2 hari yah ada hasil namun untuk di pangkal lidah ini
yang tak bias dijangkau dan laring bagian atas. Sedih rasanya dan hari itu mau
tak mau harus balik Surabaya karena tugas negara yang lebih penting daripada
nyawa. Ya setidaknya jika aku mati maka syahid (mungkin jika Tuhan
menghendaki). Sebelum berangkat saya ke dokter dekat rumah, kare masih ada
hubungan keluarga, saya utarakan kronologis sakit saya, beliau menyatakan salah
obat mas, ini kuat lambungnya makan 5 obat ini. Saya jawab tidak makanya saya
hentikan kecuali amoxcilin karena ini bukan obat sembarangan dan harus habis.
Dokter Mrs. D memberiku 3 macam
obat, acetaminopenum, dexamethasone dan mengganti amoxcilin dengan varian lain
dan dosi 2x sehari yang sebelumnya 3x sehari. Semua saya bawa ke Surabaya,
namun tetap belum bias move dari silet. Sampai Surabaya saya takut akan semua
jenis minum dan makanan, aku Cuma bawa setermos air hangat dari ibu.
Hari pertama makan roti dan bubur
bayi rasa silet bahkan adem sari rasa silet juga, madu rasa balsem dan silet, siangnya pisang dan bubur
bayi rasa silet, sampai saya nyerah biarlah pingsan nanti diinfus tidak cape
nelan silet lagi. Tapi kok ga ada yang mengurus jika opname di rumahsakit. Selasa
16 Februari 2016 malam saya ke superindo membeli minuman, larutan cap kaki
tiga, teh sosro, susu, cincau, anggur, mau cari kurma ternyata sold out,
vitalong C, Kuldon Sariawan, Promina (ini malah salah belinya bukan bubuk tapi
makanan bentuk mie instan, alhasil blm diapa apain). Saya harus makan apapun
yang terjadi karena jika tidak hal ini bias berakibat buruk, mag atau pingsan. Akirnya
makanan yang saya konsumsi pertama susu kemudian anggur, ehm….. sakitnya minta
ampun kayak makan balsam dan silet, panas dan sakit, kemudian cincau agar
lambung gak luka kelebihan asam karena tidak makan, rasanya ya silet. Namun ajaibnya
saya minum teh apa aja mereknya rasa perih itu ilang sementara. Kemudian saya
makan kuldon sariawan dan vitamin C rasanya jamu namun tidak ada siletnya.
Hari ke dua di Surabaya, kembali
makan sekarang agak mendingan luka tenggorokan agak membaik. Sarapan cincau,
anggur, roti tawar, madu, pisang. Semua rasa silet kecuali teh nya. Kemudian berangkat
kerja, di kantor berjuang juga makan seperti tadi pagi. Selama seharian bdan
gemetar kurang energy saat bekerja. Siangnya makan kurma, roti tawar, cincau
yang diblender jadi satu serta pisang, ya sedikit rasa silet namun tak separah
sebelumnya. Kemudaian saya teringat makanan yang saya konsumsi saat diare. Yaitu
tempe kedelai. Malamnya saya beli ke superindo lagi dengan serta membeli anggur
teh botol, larutan penyegar, kuldon, susu bear bred. Awalnya saya makan tempe,
wow ini tempe ga buat perih sama sekali dan tak ada rasa silet, setelah tempe
makan anggur dengan rasa silet, minum obat makan cincau rasa silet dan kuldon.
Sampai detik ini saya masih memiliki
energy, hari ini adalah hari ke empat sejak saya mengenal silet di tenggorokan.
Dan saya masih punya energy. Dari cerita ini dan sampai detik ini, menurut
ujicoba pada diri saya sendiri, makanan yang tidak membuat sakit saat radang
kronis adalah tempe kedelai, minum teh
atau larutan penyegar tanpa rasa, kuldon sariawan agar tak panas dalam atau
larutan penyegar. Mungkin jika ada yang baca blog ini bias menyumbang ide
makanan yang tak membuat sakit saat radang. Setidaknya bias menghilangkan lapar
sampai beberapa hari ke depan. Sempat ada yang menyarankan propolis namun aku
belum eksperimen sampai ke situ. Jika ada yang berkenan silahkan berbagi
pengalamannya
Tempe ini juga makanan ideal saat saya sedang diare 2 tahun lalu, saat itu diare parah juga dan saya juga mengkonsumsi taypingsan (nah apa ini? google adalah jawabanya :-))
Jawaban mengapa tempe :
http://hafidhsusila.blogspot.co.id/2016/02/tempe-makanan-yang-paling-baik-ketika.html
Jawaban mengapa tempe :
Langganan:
Postingan (Atom)

