Rabu, 17 Februari 2016

Tempe, makanan yang paling baik ketika, diare, mag, radang tenggorokan, ataupun sariawan.

Surabaya, Kamis 18 Februari 2016.

sumber : http://sidomi.com/wp-content/uploads/2015/08/tempe.jpg

 Menyambung sebelumnya mengenai makanan yang saya coba rasakan dan tidak menyiksa ketika sedang radang tenggorokan kronis, http://hafidhsusila.blogspot.co.id/2016/02/makanan-yang-nyaman-saat-radang_17.html. dari sini saya mulai penasaran mengapa tempe ini sangat membantu ketika sedang mengalami gangguan pencernaan, baik diare, mag sampai dengan radang kronis .

Mencoba mencari infromasi dari berbagai sumber dan Alhamdulilah inilah jawaban medisnya. dari dr Samuel menuturkan hal ini karena tempe mengandung protein yang bagus dan senyawa anti inflamasi (anti peradangan). Protein yang terkandung di dalam tempe sudah siap untuk diserap tubuh karena ia sudah terlebih dahulu dicerna oleh kapang (jamur) yang ada di tempe.

"Biasanya protein utuh harus dicerna terlebih dahulu menjadi partikel-partikel yang lebih kecil agar mudah diserap, tapi pada tempe protein tersebut sudah dicerna oleh kapang," ungkapnya.

Kapang (jamur) yang dihasilkan oleh ragi tempe bisa mengubah protein kompleks kacang kedelai karena adanya perubahan-perubahan kimia pada protein, karbohidrat dan juga lemak. Serta kulit kedelai yang keras menjadi lebih lembek sehingga memudahkan perut untuk mencerna.

Selain itu tempe juga diketahui bisa memperbaiki saluran pencernaan yang rusak serta mengatasi gangguan lambung yang kebanyakan diderita oleh pasien maag. Hal ini karena tempe bisa memberikan kenyamanan di lambung.

"Tempe merupakan pangan fungsional atau makanan yang dikonsumsi sehari-hari, karenanya tidak ada batasan asupan atau dosis," ujar dokter yang juga berpraktik di Semanggi Spesialist Clinic.

Salah satu penyebab sakit maag adalah akibat pola hidup yang tidak sehat seperti meninggalkan sarapan, pola makan yang tidak teratur atau sering telat serta faktor stres akibat pekerjaan dan jalanan yang macet.

Faktor lainnya yang bisa menyebabkan penyakit maag adalah adanya bakteri Helicobacter pylori yang dalam jangka waktu panjang bisa merusak sel-sel di dalam jaringan mukus lambung.

"Fungsi tempe untuk menangkap Helicobacter pylori secara teori bisa saja, tapi secara penelitian belum ada. Namun penelitian mengenai tempe ini sudah banyak dilakukan," imbuhnya.

Bagaimana mengonsumsinya?

Ada sebagian orang yang percaya, khasiat tempe akan muncul jika dimakan mentah. Boleh-boleh saja memakan tempe mentah tapi jika ingin lebih steril lebih bagus jika dikukus, direbus atau digoreng dengan sedikit minyak.

Bahan baku utama tempe adalah kedelai yang mana proteinnya yang tinggi di dalamnya yang memberikan khasiat kepada tubuh.

Menurut Food and Drugs Administration AS, setiap hari tubuh perlu mengonsumsi 25 gram protein dari kedelai yang setara dengan 125 gram tempe. (health.detik.com, 25/04/2011).

Alhamdulilah hari ini sudah bisa makan jauh lebih baik dan hilang rasa sakit di tenggorokan, yang paling penting saya tidak lapar dan lemas.

Makanan yang Nyaman Saat Radang Tenggorokan Kronis adalah Tempe Kedelai



Makanan yang Nyaman Saat Radang Tenggorokan Kronis adalah Tempe Kedelai jangan digoreng, namun direbus atau langsung makan (jika kamu yakin higieis)

Empiris, 17 Februari 2016
Hari Jumat, 12 Februari 2016 sore hari pukul 16.00 WIB tiba-tiba badanku drop, terasa greges greges, panas tapi kerasa dingin kepala cekot-cekot, pergelangan kaki dan otot sakit. Saya kira ini demam biasa. Saya minum Parasetamol, 30 menit kemudian sakit mereda dan panas turun, saya pulang ke tempat asal saya dari Surabaya ke Jawa Tengan. Karena terburu-buru supaya jika nanti saya sampai Jawa Tengah, saya lupa tidak membawa Parasetamol lagi untuk jaga-jaga jika ditengah perjalanan sakit itu timbul lagi (Lama perjalanan Surabaya Jawa Tengah -/+ 7 jam).

Saya pulang naik bus, sampai terminal pukul 18.30 WIB langsung berangkat busnya, setelah kurang lebih berjalan 2 jam, ternyata demam dan pusing tadi muncul dengan serangan yang lebih dahsyat. Bus dengan AC segar, bagi saya rasanya seperti di dalam feerzernya Es Cream Campina yang suhunya minus 150 celcius. Perjalanan masih 5 Jam lagi untuk sampai Jawa Tengah atau setidaknya 3 jam untuk berhenti di rest area. Di saat ini saya sudah merencanakan membeli parasetamol lagi ketika berhenti di rest area. Namun 3 jam itu serasa lebih lama daripada waktu yang diperlukan sebuah bumi untuk berotasi (23 jam 56 menit 4 detik).

Setelah menunggu sekian lama akhirnya sampai di rest area, dan Mart disana tidak menjual parasetamol, kemudian saya minta diambilkan beberapa obat sakit kepala , saya cari yang komposisi parasetamol 500 mg, saat itu saya pilih oskadon, obat yang belum pernah saya konsumsi sebelumnya. Langsung saya telan 1 butir balik ke bus bias tidur, akhirnya sampai juga di Jawa Tengah. Sampai rumah tidur menunggu pagi untuk menunggu dokter yang buka. Jam 10.00 WIB hari Sabtu 13 Februari 2016, saat itu suhu tubuh 38,50 celcius, saya memeriksakan ke seorang dokter yang lumayan terkenal di Kota Boyolali Mr. T. Diagnose kena migrain. Diberi resep suruh tembus ke apotik. Lumayan mahal obat nya, ada 5 macam diantaranya ada diazepam. Pulang dari apotik suhu tubuh naik 410 celcius. Karena takut step, keluarga saya mengkompres saya. Satu jam berlalu panas turun setelah minum obat dan dikompres. Saya akan pergi menghadiri hajatan Kakak Ipar, saat itu saya bias menyetir namun kondisi lemas sehingga sampai TKP hanya tidur kemudian kedinginan badan juga dingin, akhirnya tidak jadi melakukan apapun, langsung bertolak pulang. Sampai rumah minum obat lagi, kemudian tidur. Pukul 00.00 WIB 14 Februari 2016 keringat mengalir deras sekali, sampai bed, bantal dan saya harus ganti baju 6 kali dari jam 00.00 WIB sampai 05.00 WIB. Akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan obat, badan lemas, terasa dingin meskipun hanya hembusan udara lingkungan saat itu.

Pukul 09.00 WIB saya mengantar ke bandara kakak saya dalam kondisi lemah, pulang dari bandara saya beli minum fatigon hydro, biar segar namun ada yang aneh di tenggororkan, kok saya minum air namun rasa silet ya, sakitnya minta ampun. Ada apa dengan tenggorokanku. Ah mungkin radang.
Sore saya mau balik Surabaya kepala masih pusing, sedih banyak masalah, tak bias makan. Akirnya saya nekat balik Surabaya, baru sampai Solo, datang masalah yang tak terduga (masalah tidak diceritakan, namun ini membuat saya syok dan hampir kehilangan akal), Tuhan sepertinya tidak mengijinkan ku ke Surabaya dalam kondisi seperti ini, aku turun dari bus meski sudah membayar dengan tariff sampai ke Surabaya. Ganti bus jurusan Boyolali lagi. Sampai Rumah, lemas karena belum makan dari pagi. Ibu saya mencarikan bubur bayi untuk mengisi kekosongan perut. Memakan bubur bayi aja susahnya minta ampun. Paginya ibu masih memberikan makanan itu, rasanya tetap sama seperti silet. Penasaran saya lihat tenggorokan, takut bukan kepalang melihat kondisi tenggorokanku, sampai tak bias aku bercerita cukup lihat gambar ini saja kenapa semua makanan rasa silet. Maaf terlalu fulgar, jangan tanya rasanya ya itu tadi makanan seenak apapun rasa silet.

Siang saya pengen kacang hijau, namun baru makan 2 sendok sudah berhenti karena ga kuat perihnya makan silet. Mencoba lagi makan buah naga yang di jus, baru satu sendok menyerah. Suruh kumur garam namun tetap ga ada perkembangan, pakai albotyl sampai keminum minum dan habis satu botol kecil dalam 2 hari yah ada hasil namun untuk di pangkal lidah ini yang tak bias dijangkau dan laring bagian atas. Sedih rasanya dan hari itu mau tak mau harus balik Surabaya karena tugas negara yang lebih penting daripada nyawa. Ya setidaknya jika aku mati maka syahid (mungkin jika Tuhan menghendaki). Sebelum berangkat saya ke dokter dekat rumah, kare masih ada hubungan keluarga, saya utarakan kronologis sakit saya, beliau menyatakan salah obat mas, ini kuat lambungnya makan 5 obat ini. Saya jawab tidak makanya saya hentikan kecuali amoxcilin karena ini bukan obat sembarangan dan harus habis.

Dokter Mrs. D memberiku 3 macam obat, acetaminopenum, dexamethasone dan mengganti amoxcilin dengan varian lain dan dosi 2x sehari yang sebelumnya 3x sehari. Semua saya bawa ke Surabaya, namun tetap belum bias move dari silet. Sampai Surabaya saya takut akan semua jenis minum dan makanan, aku Cuma bawa setermos air hangat dari ibu.

Hari pertama makan roti dan bubur bayi rasa silet bahkan adem sari rasa silet juga, madu rasa balsem dan silet, siangnya pisang dan bubur bayi rasa silet, sampai saya nyerah biarlah pingsan nanti diinfus tidak cape nelan silet lagi. Tapi kok ga ada yang mengurus jika opname di rumahsakit. Selasa 16 Februari 2016 malam saya ke superindo membeli minuman, larutan cap kaki tiga, teh sosro, susu, cincau, anggur, mau cari kurma ternyata sold out, vitalong C, Kuldon Sariawan, Promina (ini malah salah belinya bukan bubuk tapi makanan bentuk mie instan, alhasil blm diapa apain). Saya harus makan apapun yang terjadi karena jika tidak hal ini bias berakibat buruk, mag atau pingsan. Akirnya makanan yang saya konsumsi pertama susu kemudian anggur, ehm….. sakitnya minta ampun kayak makan balsam dan silet, panas dan sakit, kemudian cincau agar lambung gak luka kelebihan asam karena tidak makan, rasanya ya silet. Namun ajaibnya saya minum teh apa aja mereknya rasa perih itu ilang sementara. Kemudian saya makan kuldon sariawan dan vitamin C rasanya jamu namun tidak ada siletnya.

Hari ke dua di Surabaya, kembali makan sekarang agak mendingan luka tenggorokan agak membaik. Sarapan cincau, anggur, roti tawar, madu, pisang. Semua rasa silet kecuali teh nya. Kemudian berangkat kerja, di kantor berjuang juga makan seperti tadi pagi. Selama seharian bdan gemetar kurang energy saat bekerja. Siangnya makan kurma, roti tawar, cincau yang diblender jadi satu serta pisang, ya sedikit rasa silet namun tak separah sebelumnya. Kemudaian saya teringat makanan yang saya konsumsi saat diare. Yaitu tempe kedelai. Malamnya saya beli ke superindo lagi dengan serta membeli anggur teh botol, larutan penyegar, kuldon, susu bear bred. Awalnya saya makan tempe, wow ini tempe ga buat perih sama sekali dan tak ada rasa silet, setelah tempe makan anggur dengan rasa silet, minum obat makan cincau rasa silet dan kuldon.

Sampai detik ini saya masih memiliki energy, hari ini adalah hari ke empat sejak saya mengenal silet di tenggorokan. Dan saya masih punya energy. Dari cerita ini dan sampai detik ini, menurut ujicoba pada diri saya sendiri, makanan yang tidak membuat sakit saat radang kronis adalah tempe kedelai, minum teh atau larutan penyegar tanpa rasa, kuldon sariawan agar tak panas dalam atau larutan penyegar. Mungkin jika ada yang baca blog ini bias menyumbang ide makanan yang tak membuat sakit saat radang. Setidaknya bias menghilangkan lapar sampai beberapa hari ke depan. Sempat ada yang menyarankan propolis namun aku belum eksperimen sampai ke situ. Jika ada yang berkenan silahkan berbagi pengalamannya

Tempe ini juga makanan ideal saat saya sedang diare 2 tahun lalu, saat itu diare parah juga dan saya juga mengkonsumsi taypingsan (nah apa ini? google adalah jawabanya :-))

Jawaban mengapa tempe :
http://hafidhsusila.blogspot.co.id/2016/02/tempe-makanan-yang-paling-baik-ketika.html