Rabu, 08 Mei 2019

Program Hamil

Program Hamil Hari ini tanggal 2 April 2019, saya menulis untuk bercerita bagaimana perjalanan program kehamilan istri saya. Kami menikah di tanggal 6 Agustus 2016. Setelah menikah, kami memutuskan untuk menunda memiliki anak karena pemikiran kami saat itu masih sangat takut untuk ditimpa rasa lapar, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah. Selain alasan tersebut, kami masih hidup berpisah, saya di Surabaya dan istri di Boyolali, Jawa Tengah. Kami biasanya bertemu pada hari Sabtu dan Minggu saja atau pada saat libur panjang. Cara kami akan menunda memiliki anak, dengan menggunakan kalender dibantu aplikasi “Kalender Saya” yang saya unduh dari Google Playstore, sehingga ketika kami bertemu pada hari ke 11 s.d 16 setelah hari pertama mens, dengan kata lain diwaktu subur, kami menggunakan kontrasepsi. Pertengahan bulan ramadhan tahun 1438 H atau tanggal 10 Juni 2017 sekitar 10 bulan setelah pernikahan, kami memulai program kehamilan. Saat itu istri saya pergi berkonsultasi ke dr. Haris Sukastyo, SpOG. Tarif dr. Haris Sukastyo, SpOG sangat murah, hanya Rp50.000,- sekali bertemu, sudah termasuk USG. Setelah berkonsultasi, istri saya biasanya diberikan resep untuk membeli folavit dan vitamin E serta diberikan jadwal berhubungan. Setiap mendapat jadwal dari dokter, saya bandingkan dengan yang ada di aplikasi “Kalender Saya”. Saya belum menemukan kesimpulan kapan saat yang paling baik untuk berhubungan, jadi hanya mengikuti jadwal dokter tanpa berfikir bagaimana rumus tersebut terbentuk. Kira-kira satu tahun telah berlalu semenjak konsultasi ke dr. Haris Sukastyo, SpOG, meskipun tidak setiap bulan juga istri saya konsultasi. Karena saya juga belum tentu bisa mengantar ketika konsultasi ketika saya di luar kota, saya hanya diberikan jadwal dan saya sering juga melewatkan jadwal tersebut. Terlewatnya jadwal bukan karena malas, tetapi kadang jadwalnya di hari Senin s.d Kamis, sedangkan hari tersebut kami tidak bertemu. Karena hal ini lah kami sebelumnya mengira sulitnya hamil disebabkan oleh sulitnya bertemu ketika istri saya subur. Kami mulai gusar karena program hamil kami sudah berlangsung 1 tahun dan dalam rentang satu tahun tersebut saya pernah beberapa kali cuti atau istri saya cuti untuk menyempatkan bertemu ketika hari subur tersebut bertepatan di hari Senin sd Kamis. Dalam satu tahun tersebut kira-kira istri saya telah konsultasi sekitar 6 kali ke dr. Haris Sukastyo, SpOG, namun mungkin Allah belum memberi kami titipan anak tersebut. Pada saat itu pernah di suatu hari dr. Haris Sukastyo, SpOG tidak bisa praktik dan digantikan oleh anaknya yang berprofesi sebagai dokter SpOG juga. Nama nya dr. Tanti dan kami diberikan resep obat yang sama, folavit dan vitamin E, dan jika bulan tersebut mens maka diminta untuk kembali akan dilakukan induksi, agar masa subur bisa diatur bertepatan hari Sabtu atau Minggu. Setelah berlalu satu siklus mens istri saya kembali untuk berkonsultasi, namun dokter tanti sudah kembali dan istri saya bertemu dengan dr. Haris Sukastyo, SpOG. Dari pemeriksaan saat itu, istri saya kembali diberikan resep folavit dan vitamin E seperti sebelumnya. Istri saya pun enggan untuk menyampaikan kepada dr. Haris Sukastyo, SpOG mungkin karena sungkan dan pada saat itu saya tidak dapat menemani ketika konsultasi. Setelah berlalu satu siklus mens kami pun memutuskan mengganti dokter ke dr. Ivan Sanusi, Sp.OG. Saat itu saya bisa ikut untuk konsultasi, treatment yang diberikan sebenarnya sama dengan yang dilakukan dr. Haris Sukastyo, SpOG. Seperti biasa, dilakukan USG, dilihat rahim bentuknya baik dan kami pun diberikan vitamin. Bedanya yang diberikan resep tidak hanya istri, melainkan saya juga. Beliau memberi saya hormone testosterone berbentuk tablet dan dikonsumsi selama satu minggu 4 hari setelah istri saya selesai menstruasi. Waktu itu biaya konsultsi Rp150.000,- dan untuk menebus resep yang berisi folavit, testosterone sehingga total sekitar Rp400.000,-. Selain itu kami diberikan jadwal berhubungan sama seperti dr. Haris Sukastyo, SpOG. Namun bulan berikutnya belum juga berhasil karena istri saya mens lagi. Kami pun mulai menyadari dan banyak melakukan introspeksi diri serta ada salah seorang teman kerja saya menyarankan saya banyak istighfar atas keputusan saya di masa lampau yang menunda memiliki momongan. “… istighfarlah kepada Rabb-mu karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan menciptakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12). Ketika perjalanan pulang dari Surabay ke Boyolali saya mendengarkan kajian dari ustad Khalid Basalamah serta Adi Hidayat. Saya mulai sadar jika keputusan saya waktu itu salah karena Allah telah berfirman “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan (kamu). Kami akan memberi rizki kepada kamu dan kepada mereka” [Al-An’aam/6 : 151] “dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepada kamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang sangat besar” [Al-Israa/17 : 31]. Beberapa kali menyimak kajian ustad Adi Hidayat mengenai kisah Nabi Ibrahim di Q.S Ali Imran, QS Al-Anbya, Q.S As Shafat, QS Maryam. Beliau pun menjelaskan maksud dari kisah tersebut jangan pernah berhenti dari rahmat Allah SWT dan teruslah berusaha, karena sesungguhnya doa itu adalah ibadah. Dalam surah tersebut terdapat tuntunan doa ketika kita menginginkan keturunan. Kita dapat mencontoh ketabahan Nabi Zakariya AS. Saat beliau masuk usia senjanya, Allah belum memberikan karunia anak kepada beliau. Dalam Al-Quran, Allah menceritakan perjuangan doa Nabi Zakariya, “Menyebutkan penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria (2) Tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut (3). Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku (4). Sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera (5), yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” (6) (QS. Maryam: 2 – 6). Dalam kisah tersebut Nabi Zakariya sudah tua dan mandul namun Dia Maha Kuasa untuk memberikan apa yang Nabi Zakariya minta. Allah pun mengabulkan doa Nabi Zakariya, “Ingatlah kisah Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Aku perbaiki isterinya (sehingga dapat mengandung). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 89 – 90). Dalam ayat lain pun terdapat doa “Ya Allah, anugrehkanlah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Memperkenankan Doa.” (QS. Ali Imran: 38). Jangan pernah menyerah untuk medapatkan rahmat Allah, terus berdoa dan berusaha. Setelah beberapa bulan tidak konsultasi dokter, tiba-tiba istri saya menginginkan untuk ganti dokter lagi. Kali ini dia ingin ke PKU Muhamadiyah Surakarta untuk menemui dr Soffin Arfian SpOG, namun karena terlalu siang kami tidak dapat antrian untuk dr Soffin Arfian SpOG sehingga kami memilih dr Anik Suryaningsih SpOG. Kami menceritkan apa yang telah kami lalui sebelumnya, disini saya diminta untuk cek sperma sedangkan istri saya dilakukan USG trans vaginal. Dari hasil USG trans vaginal diketahui jika istri saya ada PCOS meskipun dr Anik Suryaningsih SpOG tidak menyampaikan kepada kami hanya ketika hasil tersebut saya fotokan kepada keponakan saya yang berprofesi dokter dia menjelaskan jika dalam hasil observasinya memang ditemukan PCOS. Pada saat itu kami pun tidak tahun apa itu PCOS. Kami cari di internet mendapatkan hasil Sindrom ovarium polikistik. PCOS adalah kumpulan gejala yang ditandai dengan ketidakseimbangan hormon yang dapat terjadi pada wanita di usia subur. Wanita dengan PCOS cenderung mengalami menstruasi yang tidak teratur, menstruasi terjadi lebih jarang atau berkepanjangan (tidak selesai-selesai), serta susah hamil. Dari hasil bertemu dr Anik Suryaningsih SpOG istri saya diberikan resep untuk membeli metformin dan folavit, sedangkan saya diberikan rujukan untuk dilakukan tes sperma dan diberi tahu jika tes dilaksanakan hari Sabtu maka sperma tidak boleh dikeluarkan hari Kamis. Biaya dari konsultasi dr Anik Suryaningsih SpOG Rp81.000,- administrasi Rp24.300,- untuk biaya USG transvaginal kalau tidak salah Rp300.000,-. Dua minggu berikutnya saya tes sperma di RS PKU Muhamadiyah Surakarta dengan biaya jika tidak salah Rp280.000,- hasilnya kami ambil pada minggu berikutnya saat konsultasi dengan dokter. Satu minggu setelah tes spema kami pun kembali ke PKU Muhamadiyah Surakarta untuk konsultasi dengan dokter, meskipun pada secarik kertas itu saya sudah faham kalau hasilnya adalah oligosperma, yang berarti sperma kurang banyak jumlahnya dalam satu kali ejakulasi. Waktu itu kami memutuskan untuk ganti dokter lagi karena dr Anik Suryaningsih SpOG tidak hadir hari itu sehingga kami membawa hasil tes ke dr. Dimas Mardiawan, M. Ks. Sp.OG. Saat menemui dr. Dimas Mardiawan, M. Ks. Sp.OG dibaca hasil tes sperma tersebut dinilai tidak valid karena ketika kami ditanya kapan terakir dikeluarkan kami mengakui jika Kamis malam Jumat kami bertemu di Surabaya. Saran saya ketika disuruh tes maka jujurlah apa yang dilakukan dan berusahalah untuk beraktifitas norma, tidak usah dibuat-buat agar hasil tes baik karena jika melakukan hal tersebut nanti hasil tes menjadi bias dan kesimpulan dokter pun tidak tepat hasilnya pun menjadi tidak baik. Jadi jika akan tes jangan merubah gaya hidup, biarlah seperti kamu apa adanya barulah jika kesimpulan itu jelek maka dokter akan memberikan terapi dan memberikan saran untuk kebaikan kita selanjutnya. Atas hasil tes tersebut dr. Dimas Mardiawan, M. Ks. Sp.OG meminta saya untuk melakukan tes ulang dan dijelaskan kalau hal ini berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan testis untuk memproduksi sperma dan membuatnya cukup matang untuk membuahi sel telur wanita. Pria yang sehat akan memproduksi 70-150 juta sperma per hari. Sperma ini terdapat dalam air mani yang mana rata-rata volume air mani normal yang dihasilkan pada ejakulasi adalah 2-5 ml, untuk sperma sehat memiliki 20 juta sel sperma per ml. Pada saat itu, baik volume maupun jumlah sel sperma kurang, sehinga dr. Dimas Mardiawan, M. Ks. Sp.OG meminta untuk dilakukan tes ulang. Sperma yang diproduksi di testis akan membutuhkan waktu selama 70 hari (10 minggu) untuk menjadi matang. Sperma yang matang ini bisa menunggu selama dua minggu di daerah yang disebut epididimis (waduk penyimpanan sperma), yang berada di atas testis, sebelum meninggalkan tubuh dalam air mani selama ejakulasi. Ejakulasi (proses pengeluaran sperma) yang dilakukan terlalu sering bisa mengurangi jumlah dan volume sperma. Bila Anda ingin menjadi pria subur dan mempercepat kehamilan, setidaknya beri jeda selama 3 hari untuk melakukan ejakulasi, entah itu melalui masturbasi maupun berhubungan badan dengan istri. Dengan alasan inilah dr. Dimas Mardiawan, M. Ks. Sp.OG meminta untuk dilakukan tes ulang. Satu bulan setelah brtemu dr. Dimas Mardiawan, M. Ks. Sp.OG saya baru bisa melakukan tes ulang. Hasil istri saya juga tidak begitu jauh dari sebelumnya, padahal saya sudah menjalankan apa yang disarankan oleh dokter. Meskipun demikian kami tetap membawa hasil tersebut ke dokter. Untuk pertemuan selanjutnya saya menemui dr. H. Soffin Arfian, SpOG. Meskipun berganti-ganti namun kami tetap di satu rumah sakit yang sama. Untuk tarif dokter tidak berbeda jauh dengan dokter-dokter sebelumnya. Kami pun menceritakan apa yang sudah dilakukan pada observasi sebelumnya dan menunjukkan hasil tes sperma. Saat itu dr. H. Soffin Arfian, SpOG, minta untuk dilakukan USG dopler. Kami juga baru tahu ternyata USG itu banyak sekali macamnya. USG Doppler merupakan tes bersifat non invasif yang digunakan memperkirakan aliran darah melalui pembuluh darah dengan memantulkan gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound) dari sirkulasi sel darah merah. Umumnya, USG menggunakan gelombang suara untuk bisa menghasilkan gambar, tetapi tidak bisa menunjukkan aliran darah. dr. H. Soffin Arfian, SpOG menjelaskan tes ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya varicocele di skrotum saya karena jika ada hal itu dapat mempengaruhi kesuburan. Istri saya diminta untuk tes hormone dan Histerosalpingografi (HSG). Tes hormone AMH dan HSG tersebut dilakukan 4-5 hari setelah mens dan tidak boleh berhubungan sebelum tes tersebut dijalankan. Saya pun diberikan rujukan untuk cek lab. Tes hormon AMH adalah prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur kadar AMH (anti-mullerian hormone) di dalam tubuh. Dalam mengukur kadar hormon yang dihasilkan oleh organ reproduksi ini, dokter akan mengambil sampel darah 3 kali dengan jeda 20 menit. Sedangkan Histerosalpingografi (HSG) adalah pemeriksaan dengan menggunakan sinar Rontgen (sinar-X) untuk melihat kondisi rahim dan daerah di sekitarnya. Pemeriksaan ini ntuk melihat rahim dan saluran tuba dengan menggunakan bentuk khusus sinar-x yaitu fluoroskopi dan pewarna kontras. Pewarna kontras yang larut dalam air akan disuntikan sehingga membuat bentuk rahim dan saluran tuba terlihat. Hal ini diikuti dengan sinar x-ray fluoroskopi untuk melihat kondisi saluran tuba terkait bagaimana struktur yang mengangkut telur dari ovarium ke rahim bergerak. Dokter pun dapat melihat apakah istri saya memiliki penyumbatan di saluran tuba atau kelainan struktural lainnya di rahim istri saya. Setelah dua bulan berlalu kami baru bisa konsultasi dengan dr. H. Soffin Arfian, SpOG. Hal ini karena saat terjadi kesalahan tes hormone AMH dan HSG tidak dilakukan secara bersamaan sehingga tes tersebut harus diulang dengan menunggu siklus mens berikutnya. Cek lab USG dopler saya cukup satu kali dengan hasil positif varicocele baik testis kanan maupun testis kiri. Sebelum konsultasi dengan dr. H. Soffin Arfian, SpOG, dokter lab yang menangani saya Dr. dr. Widiastuti, Sp. Rad.(K) sudah menyampaikan kepada saya untuk dilakukan operasi dan insyaalah bisa meningkatkan vertilitas saya. Biaya USG dopler di lab Prodia waktu itu Rp.605.000,- sedangkan untuk HSG istri saya Rp.900.000,- dan tes hormone AMH Rp.1.800.000,-. Dari hasil konsultasi dengan dr. H. Soffin Arfian, SpOG membawa hasil lab kami, dr. H. Soffin Arfian, SpOG memberikan surat rujukan ke dr. Wibisono, Sp.U untuk dilakukan observasi sedangkan istri saya diberikan terapi melakukan jogging pagi selama 20 menit dan mengkonsumsi metformin. Terapi ini diberikan sebagai salah satu usaha untuk menanggulangi ketidaksensitifan hormon insulin. Insulin merupakan hormon yang mengontrol gula darah pada di tubuh. Wanita dengan PCOS rentan mengalami resisten insulin, sehingga tubuh akan mencoba untuk memproduksi lebih banyak insulin. Kadar insulin yang tinggi menyebabkan ovarium memproduksi terlalu banyak testosteron yang mengganggu proses ovulasi. Resistensi insulin juga dapat memicu kenaikan berat badan yang membuat gejala PCOS makin memburuk karena kelebihan lemak membuat tubuh memproduksi lebih banyak insulin. Insulin yang berlebih juga mengakibatkan pendeknya masa haid dan jadwal haid tidak teratur. Dengan surat pengantar dari dr. H. Soffin Arfian, SpOG saya periksa ke dr. Wibisono, Sp.U dan positif terdapat varicocle. Varikokel adalah kondisi yang menyerupai varises, namun menyerang pembuluh darah vena dalam kantong zakar alias skrotum. Varikokel adalah pembengkakan yang terjadi pada skrotum yang berfungsi menahan testis serta arteri dan vena di saluran sperma. Pada kondisi normal, pembuluh darah yang berfungsi membawa darah dari testis ke penis tersebut seharusnya tidak terasa atau teraba, tetapi pada penderita varikokel pembuluh darah vena tersebut biasanya terlihat, seperti cacing dalam skrotum. Penampakan dari pembuluh darah tersebut serupa dengan varises yang terjadi pada tungkai. Tidak semua pria akan mengalami hal ini, namun ada beberapa orang yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya. Sebagian besar varikokel terjadi karena katup pembuluh darah vena tidak berfungsi dengan baik dan inilah yang terjadi pada saya. Padahal, katup tersebut memiliki “aturan” kerja sendiri, yaitu bertugas membuka aliran darah menuju jantung dan langsung menutup saat aliran darah melambat. Nah, pada pengidap varikokel, katup tersebut tidak dapat menutup dengan baik dan menyebabkan aliran darah berbalik lalu terkumpul. Hal itu menyebabkan rusaknya katup yang kemudian membentuk varikokel. Setelah menerima penjelasan dr. Wibisono, Sp.U, beliau langsung merekomendasikan operasi minggu depanya. Sebenernya ada cara lain untuk meningkatkan vertilitas selain operasi, namun itu sangat lambat prosesnya dan sepertinya saya tidak bisa menjalankan hal tersebut jika dilihat aktivitas saya sehari-hari. Contoh salah satu terapi yang dilakukan adalah berenang pada saat hari sedang panas. Berenang disebut dapat membantu mendinginkan suhu pada testis yang berubah panas akibat varikokel. Nah, betapa sulitnya jika itu dilakukan harus setiap hari, apakah saya harus cuti panjang dan tidak kerja, sepertinya itu bukan solusi. Dari hasil konsultasi ke dr. Wibisono, Sp.U saya dapat rujukan untuk dilakukan cek lab darah, waktu perdarahan, waktu pembekuan, SGOT, SGPT, glukosa, ureum, keratin dll di lab Budi Sehat dengan biaya Rp817.000,- serta memberikan jadwal untuk operasi tanggal 14 Desember 2018. Biaya konsultasi dokter dr. Wibisono, Sp.U sebesar Rp81.000,- dan administrasi Rp24.300,-. Tanggal 13 Desember 2018 saya menemui dr. Wibisono, Sp.U dan langsung diberikan rujukan untuk rawat inap dilakukan pemeriksaan radiologi X foto BNO Abdomen. Hari Jumat pukul 08.00 WIB persiapan operasi dan sebelum operasi saya dan tim yang akan melakukan operasi breafing diterangkan apa saja yang dilakukan, berhubung saya varicocle kanan dan kiri sehingga akan dilakukan sayatan kira-kira 8 cm kanan dan kiri di sekitar pinggul tempat gasper. Saat itu dokter anesthesi adalah dr. Ricka Lesmana, Dr, Sp. An. M.Sc dan dokter operatornya dr. Wibisono, Sp.U. Saya dibius lokal dari perut sampai kaki sehingga mirip operasi cesar saat melahirkan. Bius disuntukkan ke tulang belakang tepat di belakang perut, setelah di suntik bius seperti ada aliran listrik voltase rendah mengalir di kaki. Kemudian kaki mulai berasa hangat seperti di selimuti. Dokter anesthesia minta untuk mengangkat kaki, ketika saya sudah tidak bisa menggerakkan kaki artinya bius sudah sempurna. Operasi mulai dilakukan dengan dokter melakukan sayatan di pinggul dan menjepit atau mengikat pembuluh darah yang menjadi varikokel untuk menghambat aliran darah ke pembuluh tersebut dan dapat mengalir ke pembuluh darah normal yang lain. Pukul 09.00 WIB operasi selesai, namun tidak langsung kembali ke kamar rawat inap, menunggu sampai kaki bisa digerakkan dahulu. Pukul 10.30 WIB kaki sudah bisa digerakkan dan saya kembali ke ruang rawat inap. Pukul 16.00 WIB saya mulai merasa tidak nyaman karena ternyata saya dipasang kateter. Hal ini yang membuat saya tidak bisa tidur sampai besok paginya setelah kateter dilepas. Saran saya jika melakukan operasi ini minta ke dokternya untuk tidak dipasang kateter cukup pakai pispot jika itu dimungkinkan. Alasan dokter memasangkan kateter adalah agar kemungkinan pasien terjatuh dapat diminimalisir. Dengan adanya kateter pasien bisa tetap di bed selama 24 jam atau sampai efek bius hilang. Namun hal ini membuat saya benar-benar tidak nyaman, 24 jam terasa lebih dari satu minggu. Ternyata meski hanya tidur namun itu adalah nikmat yang luar biasa diberikan Allah kepada makhluknya. Sabtu tanggal 15 Desember 2018 saya diperbolehkan pulang dan saat itu biaya operasi serta perawatan sebesar Rp21.365.793,-. Setelah operasi saya diminta control ke dokter dr. Wibisono, Sp.U satu kali untuk melepas perban dan membersihkan luka serta diberikan resep obat. Untuk biaya kontrol dan lain-lain saat itu habis sekitar Rp400.000,- dan pemulihan varicocle diperkirakan sekitar 6 bulan pasca operasi. Bulan Januari 2019 kami menjalankan terapi yang diberikan oleh dokter dr. H. Soffin Arfian, SpOG, dan sampai saat ini saya belum menemui dr. H. Soffin Arfian, SpOG. Awalnya terapi berjalan baik-baik saja, setiap pagi istri saya jogging selama 20 menit dan saya pun sudah 80% kembali seperti semula, saya bisa olahraga bersepeda, jogging ataupun berenang. Namun karena musim penghujan, aktifitas jogging yang harus dilakukan istri saya jadi sulit di realisasikan, karena jika pagi turun hujan. Akhirnya kami membeli treadmill yang cukup terjangkau sekitar Rp.3.600.000,- sehingga masalah teratasi. Sampai saat ini memang kami belum konsultasi kembali ke dokter namun berbekal jadwal yang diberikan dokter untuk berhubungan dan tes sperma yang dua kali saya lakukan serta aplikasi dari google play store “Kalender Saya”. Saya dapat menghitung kira-kira kapan istri saya subur dan kapan waktu yang tepat untuk berhubungan dan apa yang harus saya lakukan ketika waktu subur tersebut datang. Sebenarnya perhitungannya menurut aplikasi “Kalender Saya” ini berdasarkan rata-rata beberapa kali siklus mens. Kalau di aplikasi ini saya sudah memasukkan data sejak 2016 pada saat saya menikah dan saya update terus sampai hari ini. Jika dilihat memang siklus terpendek mens istrisaya adalah 26 hari dan terpanjang adalah 34 hari. Jadi berdasarkan perhitungan aplikasi “Kalender Saya” masa subur istri saya pada hari ke-12 sampai dengan 17. Cukup panjang memang rentang waktu tersebut, namun di aplikasi tersebut cukup membantu saya dimana terdapat perkiraan hari ovulasi atau hari dimana sel telur itu di lepaskan. Atas perhitungan tersebut saya akan mengeluarkan sperma di H-6 ovulasi, dan melakukan hubungan di H-3 serta melakukan hubungan lagi 2 hari setelah hubungan yang pertama, contohnya begini: Dari tabel tersebut awal mens bulan Januari 2019 adalah tanggal 20 Januari 2019 maka sesuai perhitungan aplikasi “Kalender Saya” waktu ovulasi jatuh di tanggal 8 Februari 2019. Jadi saya akan mengeluarkan sperma pada tanggal 3 Februari 2019 kemudian baru dikeluarkan lagi di tanggal 6 Februari 2019 kemudian dua hari setelah tanggal 6 Februari 2019 yaitu tanggal 8 Februari 2019. Berlandaskan seperti yang sudah di jelaskan sebelum dilakukan tes sperma di atas dan ternyata sperma bisa hidup 3-6 hari didalam rahim dan jangan lupa berdoa “Ya Allah, anugrehkanlah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Memperkenankan Doa.” (QS. Ali Imran: 38)”. Tanggal 25 Maret 2019 adalah perkiraan aplikasi “Kalender Saya” saat istri saya mens, namun sampai tanggal 29 Maret 2019 istri saya masih belum mens. Malam itu hari Sabtu tanggal 30 Maret 2019 pukul 00.00 WIB saya baru sampai di Boyolali perjalanan dari Surabaya, istri saya membukakan pintu rumah. Kami mengobrol dan tiba-tiba dia membawa tes pack dan minta ijin untuk melakukan tes. Saya hanya bilang besok pagi saja tapi ternyata istri telah membeli tes pack 2 buah. Saat malam itu tes menunjukkan 2 strip namun saya menyarankan untuk tes lagi pagi harinya. Pagi saat saya bangun dan akan solat subuh istri saya sudah melakukan tes yang ke dua ternyata sama, hasilnya dua strip. Kami pun mencari dokter untuk memeriksakan namun baru ada dokter di hari Selasa tanggal 2 April 2019. Alhamdulilah menurut keterangan dokter dan hasil USG memang menunjukkan bahwa istri saya sedang hamil. –(kata istriku bisa ditambah bagaiman haru nya reaksi ketika dian melihat postif, atau ceritakan dalam povnya dian) Dari pengalaman saya, teruslah berdoa dan berusaha, meskipun saat itu terlihat mustahil, seperti hikmah yang kita ambil dari kisah Nabi Zakaria.

1 komentar:

  1. Terharu saya m m bacanya... Kami pun sudah 12 tahun menanti buah hati... Semoga menginspirasi kami untuk terus Berjuang, bersabar, bersyukur atas segala nikmatNYA... Semoga sekeluarga diberi limpahan rahmat, berkah dariNYA

    BalasHapus